Sakit, owner kebahagiaan sejati

Izinkan saya menyapa kalian peserta didik “ PREMAN” akronim dari pemuda, remaja, masa depan negara. Mengapa? Karena gaya kalian yang selalu bikin keki. Penampilan yang amburadul, awut-awutan, tidak rapih. Kalian lebih suka dengan sapaan yang negatif. Kalian lebih merasa terhormat jika melakukan perbuatan-perbuatan negatif. Mencari tenar/popularitas semu dengan menghalalkan segala cara yang tidak wajar/normal dalam norma umum/sosial kemasyarakatan. Mental instan. Gampang putus asa dan mencari kenikmatan duniawi yang adalah kecamba kegagalan kalian.

Para PREMAN, kalian tidak boleh menjadi penunggu plat deker yang setiap hari nongkrong merencanakan kejahatan, seperti merencanakan sekarang makan apa dan sebentar makan siapa. Tetapi kalian harus sadar akan masa depan kalian yang akan menjadi titik start kemajuan keluarga, lewo tanah, gereja dan bangsamu. Ingat tiga hal yang menjadi benih kegagalan bagi manusia yakni:  pertama, kuasa/tahta semu untuk menguasai dunia. Kedua, napsu untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi (egoisme dan konsumerisme). Ketiga, kehausan/kenikmatan dunia yang menguasai alam sadar.

PREMAN, duniamu adalah sekolah. Pekerjaanmu adalah belajar. Harimu adalah tulis dan baca. Pedang mu adalah buku-buku yang setiap saat menemanimu. Harus disadari bahwa sesuatu yang baik pasti sulit dilaksanakan. Sebagai contoh, bagaimana kalian menaati peraturan sekolah. Kalian pasti  berupaya mengulur-ulur waktu sehingga datang terlambat di sekolah.  Kalian tidak  mau mengerjakan tugas.  Tidak berpakaian seragam dengan benar dan masih banyak lagi contoh lain. Intinya, kalian belum mampu menjadi diri sendiri. Dari sekarang segeralah bangun dari tidur panjangmu. Ingat bahwa semua kesulitan yang dirasakan dan dialami bermula dari pikiran atau cara berpikir. Dari itu mulai sekarang kalian harus dapat merubah pikiran yang negatif menjadi positif. Saya yakin kalian  pasti bisa. Jangan mengikuti jejak temanmu yang sudah tergilas zaman.

            Sekali lagi saya katakan bahwa sesuatu yang baik pasti sulit dilaksanakan karena memang filosofinya demikian. Untuk sampai ke garis finis tanpa titik star dan perjuangan adalah mustahil. Tidak mungkin berbahagia di kemah Tabor tanpa melalui Golgota. Kemuliaan tanpa salib adalah omong kosong. Akhirnya saya ajak kalian untuk memulai yang baik dengan berliterasi. Membaca dan belajar harus menjadi kompas penuntun untuk menulis. Mulai dari yang sederhana seperti menulis berita atau cerita-cerita lisan yang selama ini belum di tulis. Selamat mencoba, Tuhan memberkati. Smile, peace and joy..