’Teng .. teng .. teng ..,” Bel berbunyi tanda istirahat. Seperti biasa Marsel dan gengnya berjalan menuju kantin sekolah. Saking kelaparan saat tiba di kantin dengan segera ia memesan makanan favoritnya mie ayam dan es teh. Pada waktu yang bersamaan Putri seorang siswi kelas XII IPA juga memesan makanan yang sama. Keduanya berebutan makanan karena sama-sama lapar dan ingin menyantap makanan tersebut. Alhasil, “Praaaak … !” mangkok dan gelas berisi mie ayam dan es teh yang dipesan pecah sehingga berserakan di atas lantai. Semua mata tertuju kepada mereka. Ibu kantin dengan segera membersihkan tempat itu. Bukannya meminta maaf, keduanya malah beranjak dari tempat itu dengan wajah kesal.

Putri munuju ruang kelasnya dan menceritakan kepada sahabatnya tentang kejadian yang menimpanya di kantin. Tak lama kemudian, bel tanda pulang sekolah. Putri dan April bergegas keluar kelas bersama siswa yang lain. Saat tiba di tempat parkiran muncul sosok layaknya preman berambut gondrong, berjaket hitam dengan motor yang agak berisik. Putri kemudian meninggalkan tempat itu karena satu-satunya orang yang berpenampilan seperti preman tak lain adalah Marsel. Ia masih kesal dengan tingkah Marsel saat di kantin tadi. Sebelum ia beranjak, motor berisik itu telah berhenti tepat di hadapannya. “Hay, Putri ..” sapa Marsel. Putri memalingkan wajahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. “Sedang apa? Ayo, ikut denganku!” bujuk Marsel. Putri masih saja bersikap acuh. Karena tidak ada respon, dengan spontan Marsel menarik tangan Putri dan memaksanya naik ke atas motor miliknya. Putri semakin marah. Dengan gesit sebuah tamparan melayang ke muka lelaki itu. “Aku tidak pernah suka dengan laki-laki seperti kamu” sahut Putri sambil melangkah memasuki angkot yang tengah berhenti lalu pergi dari tempat itu. Marsel tak hanya berdiri menatap angkot yang telah menjauh. Ia menyalakan motor berisiknya itu lalu mengikuti angkot itu. Entah bagaimana sikap Putri saat melihatnya nanti, tak ia hiraukan. Di dalam angkot yang berdesakan itu Putri menempati bangku paling belakang. “Apa …?” tanpa sengaja kata-kata itu keluar dari mulutnya ketika kaget melihat Marsel mengikutinya dari belakang. “Bang jalannya dipercepat, ya ..!”perintah Putri kepada sopir angkot itu.

Sosok Marsel tak lagi tampak, Putri mengira bahwa Marsel telah kehilangan jejak dan tak mengikutinya lagi. Ia kemudian menggerakan tubuhnya sekadar bersandar pada bangku angkot itu. Tak lama kemudian suara berisik motor preman itu terdengar kembali. Dan lagi-lagi pria bernama Marsel itu telah berada di belakang angkot yang ditumpanginya.

“Kiri .., Bang.!” Sahut Putri. Dengan wajah kesal ia kemudian keluar dari angkot lalu menghampiri Marsel.

“Akhirnya, turun juga kamu.” Ujar Marsel sambil tertawa kecil.

“Iya .. aku turun. Karena suara berisik motor kamu itu. Memangnya ada apa kamu mengikuti aku?” Tanya Putri.

“ya., kalau tadi iseng saja. Tapi sekarang benaran mau antar kamu pulang.”

“Tidak usah repot-repot. Aku bisa naik angkot.” Putri tak menghiraukan ajakan Marsel. Hampir setengah jam lamanya angkot tak juga muncul. ”Tidak bosan ya menunggu? tanya Marsel

“ Aku kan tidak suruh kamu menunggu. Pulang saja sana! “ sahut Putri kesal.

“ Ya sudah, aku pulang.” Marsel lalu pergi dari tempat itu.

Sebenarnya Marsel tidak pulang, dia hanya berkeliling mencari minuman untuk putri. Tak lama kemudian marsel muncul lagi dengan membawa dua botol minuman di tangannya.

”Untuk apa kamu datang lagi?”

“Bawa minuman buat kamu, ini minumnya“ ujar Marsel sembari menyodorkan minuman ke arah Putri.

“Terimakasih..” sahut Putri dengan senyum

“Nah, gitu dong. Senyum biar makin cantik.”

Putri sempat berpikir Marsel hanyalah laki-laki berandalan yang kasar dan tidak sopan. Namun dibalik semua itu dia ternyata laki-laki yang perhatian.

“Yah, semua manusia punya kekurangan dan kelebihan Putri.“ sahut Marsel seakan sedang membaca pikirannya. Putri hanya membalas dengan senyuman.

“Ayo, pulang!” ajak Marsel sambil menyodorkan helm untuk Putri dan kembali menghidupkan motornya. Keduanya pun pergi.

“ Kamu lapar? Pasti lapar kan ? “ Tanya Marsel.

“Iya, aku lapar Marsel ” sahut Putri.

Saat itu juga Marsel menghentikan motor tepat di depan sebuah restoran. Keduanya bergegas masuk, namun tiba-tiba

” S e l a m a t   d a t a n g ” sorak semua yang ada di situ. Putri terkejut saat melihat April yang tidak lain adalah temannya dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata ada juga siswa-siswi kelas XII IPA dan IPS.

“ Ada apa?  tanya Putri dengan wajah kebingungan.

“Mungkin karena kebanyakan ingat aku kali, sampai lupa. Hari ini kan, hari terakhir  kita berseragam putih abu Putri.“ ucap Marsel memotong pembicaraan Putri.

“Oh, iya..” sahut Putri sambil menepuk dahinya. Bukan bahagia, bukan pula kegembiraan yang mereka rasakan tetapi sedih yang terpancar dan sekilas mereka berpelukan dan bergelinangan air mata yang menghiasi suasana saat itu. Mereka tak pernah menyangka persahabatan yang terjalin selama tiga tahun itu ternyata telah mencapai puncak dan akhirnya harus berpisah demi masa depan yang gemilang.

S E L E S A I

Oleh: Maria Devita D. Tukan (XII IPA-Angkatan 2019)