Pantang Mundur

Di saat kurenungkan sebuah kisah

Dalam kesepian kurenungkan waktu terus berlalu

Kuhadapi dengan semangat

 

Sekeras apapun engkau seperti baja

Akan kuhadapi

Akan kutantang walaupun tak punya senjata

Terus maju dan melangkah

 

Sekuat apapun engkau seperti batu

Akan ku hadang seperti ombak yang bergelora

Di tepi pantai memicu niat dan rasa rinduku

 

Hari-hari kujalani

Penuh cobaan dan rintangan

Akan ku lalui dengan niat dan kepercayaan

 

Dalam setiap benak dan gelisahku

Akan kujadikan senjata untuk melawan

Dengan keyakinan dan tenagaku

Untuk menghadapi tujuan dan cita-citaku

Yansensius Ola Open (X IIS)

 Grafik Kehidupan

 Kutatap grafik kehidupan

Senantiasa kutempel di kamar tidurku

Ada yang mendaki

Ada yang mendatar

Ada pula yang menurun

Baiklah kawan-kawan

Jika tak ada yang mau menjawab

Akan kutanyakan pada angin, mendung, dan cerah

Yohata S. werang (X IIS)

 

 Kembang

 Suatu pagi sebenih bunga

Jatuh ke tanah

Tunas muda muncul menjelma

Daun dan ranting

 

Kuncup bersemi

Kembang bermekaran

Harum indah mempesona

 

Siang datang panas membakar

Kembang layu memucat

Senja datang membawa sekeranjang angin

Kembang gugur, jatuh

Di bawah dinginnya malam

Gregorius Pama Tukan (X MIA)

Hampa

Hari ini tiada pasti

Tak tahu

Tak menentu

Duduk dalam bayang sendiri

Tanpa sesuatu yang indah

Sendiri kurasa selalu

Sunyi kulihat sendiri

Tak tahu ke mana aku melangkah

Yang terpikirkan hilang

Yang kuimpikan lenyap

Semua terasa hampa

Bagai cinta tanpa ikatan

Yosep K. Duran Hera (XI IPS)

 

 

Kesesakan Jiwa

 Berikanlah aku sesuatu dalam hidupmu

Jiwaku telah melekat pada duniamu

Engkau hadir dengan sebuah keinginan

Dengan seuntai kata-kata manismu

 

Engkau mampu melebur hatiku

Dan mencuri kemurnian jiwaku

Lalu engkau memberi kenikmatan

Sedetik untukku namun meninggalkan

Luka yang menghancurkan butiran-butiran impianku

 

Duniaku tak tentu arah

Setelah hilangnya kesucianku

Seperti bayangan-bayangan yang hilang

Lenyap dan tak dapat bertahan

 

Aku hendak melampiaskan keluhanku

Dan ingin berbicara dalam kepahitan jiwaku

Dan penantianku berakhir dengan sebuah penyesalan

Sesilia K. Badin (XI IPS)

 

 

Jeritan Hati Negeriku

Dunia mulai lusuh

Jalan-jalan tak lagi lurus

Penghuni negeriku terus menjerit

Pada tembok-tembok rapuh

Mereka tak menghiraukan itu

Mereka hanya terpikat pada sukacita dan harta kekayaan

Menghamburkan pundi-pundi rupiah dan

Melintasi dunia dengan robot-robot barunya

Di samping adegan itu

Penghuni negeriku mengemis-ngemis

Dan berjalan tanpa kaki

Tak ada sepi yang memberi nyaman

Tak ada pandangan yang memberi senyum

Dunia beradu dengan alam dan

Negeriku menjadi korban pertama

Sungai mulai kering

Laut bertamu pada daratan menyantap negeriku

Hingga tumpukan tanah tidur di atas negeriku

Bahkan paling menyakitkan

Politik dijadikan senjata untuk membunuh negeriku

Mereka membuat opini-opini

Seakan mencekik negeriku dan

Dikejutkan dengan berbagai perkara

Biarlah hari-hari negeriku seperti hembusan nafas

Dan negeriku sempat menelan ludah

Tak ada kicauan-kicauan yang membuat

Negeriku sedikit lega

Hanya kabar-kabar burung yang datang setiap hari

Hingga membuat semangat dalam diriku terdesak

Yuliana Yawa Hera (XI IPA)

 Berharap Kau Tahu

Ku ingin kau tahu tentang rasaku

Kuingin kau tahu tentang apa yang kupikirkan

Andai hati dapat berpindah

Akan kupindahkan hatiku ke hatimu

Agar kau tahu bagaimana rasa ini

 

Ketika bola mataku melihat bayanganmu

Panca inderaku seakan berhenti berfungsi

Dunia ini seakan berhenti berputar

 

Akan kuteriakkan kepada dunia

Betapa aku mencintaimu

Entah apa jawaban dunia

 

Senyummu adalah kebahagiaanku

Tawamu adalah harapanku

Tapi andai saja kau tahu

Di balik semuanya betapa aku tersakiti

Imelda Kumanireng (XII IPS)

 

Burung Merpati

Pagi yang cerah kupandang ke angkasa

Di situ aku melihat

Ada burung yang bernyanyi-nyanyi

Oh … alangkah senangnya aku memandangmu

Engkau menemaniku di pagi hari

Tiada orang lain di pagi ini

Hanya kamu satu-satunya

Engkau menghias angkasa

Buluhmu indah dipandang mata

Senang bila engkau bersiul-siul

Di pagi yang sepih

Saat kudengar nyanyianmu

Hatiku gembira dan bahagia

Aku tak lagi kesepian

Petrus Salu Lein (X MIA)

 

 

Dia

Dia bagaikan teori potensial

Yang membuatku mendekat

Dia seakan menarik hatiku

Hingga aku jatuh cinta padanya

 

Seandainya seismograf dapat mencatat

setiap getaran cintaku

akan kupastikan dia mengetahui

setiap getaran hatiku

 

Dia

Begitu berarti bagiku

Seumpama oksigen yang memberi kehidupan

Andai kompas mampu mengetahui

Kemana arah perasaanku

Pastikan ke arahmu selalu kutuju

 

Aku tak mampu mengevaluasi

Sumber daya lahan hatimu

Namun diriku selalu bertanya

Adakah lahan potensial untukku di hatimu?

 

Pikiranku terus beragam agar

Cinta kita selalu seperti konvergen

Yang selalu mendekat

Angelina kartini B. Beribe (XII IPS)