Setelah sekian lama beradu dengan buku-buku nonfiksi maupun fiksi untuk menambah koleksi pengetahuanku, kini aku mulai menjelajahi dunia baru seperti yang diimpikan oleh penyandang Ahli Madya, Sarjana, Magister, dan lain sebagainya. Aku memiliki secercah harapan untuk menjadi orang yang sedikit memberikan kebahagiaan kepada mereka yang telah memberikan secuil cinta dan kasih sayang. Kelak aku dapat melihat senyum dan tawa mereka yang selama ini terbang dihempas badai duka.

Keinginan itu semakin menggelora dalam jiwaku. Aku mulai berlangganan surat kabar harian demi mencari iklan lowongan, bahkan aku pun harus bergelut dengan debu-debu jalanan berharap ada iklan lowongan yang terpajang di pinggir jalan. Hampir tiap hari kulakukan itu hingga raja malam menjemput. Usahaku itu tak membuahkan hasil. Semua iklan lowongan yang kutemukan tak satu pun yang sesuai dengan keahlianku. Hari itu aku kembali ke rumah dengan perasaan kalut. Kurebahkan tubuhku di atas kasur dan memejamkan mata, berharap besok akan ada cahaya.

Mentari kembali menampakkan diri. Kubuka tirai jendela membiarkan tubuhku dibelai udara pagi ketika disapa sang surya. Kusandarkan kepalaku pada dinding samping jendela sambil memandang langit lepas. Langit biru yang tak membiarkan dirinya diselimuti awan putih. Sebentar lagi hari menuju siang dan kembali dijemput senja dan langit akan berkelap-kelip. “Akankah hari ini kulalui dengan senyuman setelah membolak-balikkan halaman surat kabar harian pagi ini? ataukah bibir ini kembali tak berucap seperti kemarin?” tanyaku dalam hati. Otakku pun sibuk berpikir. Namun, di saat yang muram itu, ada ide yang berkelebat dalam benakku.

* * *

Dengan keyakinan penuh aku melangkah keluar kamar tidur sambil menggendong tas berisi beberapa map. Kuayunkan langkah perlahan-lahan sambil melantunkan doa kepada yang Maha Kuasa semoga hari ini apa yang kuimpikan dapat terwujud.

Bersama motor butut aku menyusuri jalan dalam kota. Kepulan asap kendaraan dan sengatan raja siang ditambah lagi hiruk pikuk penghuni kota yang membuatku berlama-lama antre di depan lampu merah, semakin menyedot perhatianku pada papan nama yang berjejer di pinggir jalan, berharap aku cepat temukan instansi yang kutuju. Pandanganku tak tentu arah. Sesekali berhenti sejenak di depan gedung sambil memperhatikan papan nama yang terpajang lalu kembali kumelaju setelah tahu itu bukan alamat yang kutuju.

Di saat itu, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah papan nama yang terpajang di antara rimbunan daun bunga dan pepohonan yang tumbuh subur pertanda selalu dirawat tukang kebun. Aku pun menepi. Senyum kembali mengitari bibirku ketika tahu itu alamat yang kutuju. Cepat-cepat aku merapikan pakaian yang kusut oleh terpaan angin dan mengusap rambut yang kusut akibat helm hitam yang kukenakan, kemudian berjalan menuju ke arah gedung itu. Langkahku terhenti seketika. Berdiri di hadapanku seorang pria bertubuh jangkung, berkumis, dan mengenakan baju hitam. Sorot matanya tajam. Rupanya ia muncul dari dalam ruangan yang berukuran kira-kira 2 x 2 meter itu yang berada tepat di samping jalan masuk.

“Selamat siang, ada keperluan apa, ya?” ia bertanya.

“Selamat siang juga, pak. maaf saya mau ….”

“Oh, iya. Silakan isi buku tamu.” ia memotong pembicaraanku sambil menunjukkan buku tamu yang terletak di atas meja. Aku segera mengambil buku itu lalu menulis maksud kedatanganku kemudian kukembalikan padanya. Sepintas ia membaca, lalu mengarahkanku menuju pada sebuah ruangan yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Perlahan-lahan kumelangkah megikuti pria itu dari belakang. Beribu pertanyaan terlintas di benakku, “Mungkinkah aku dapat diterima? Ataukah aku ditolak?” tak lama kemudian kuhentikan langkahku di depan ruangan lalu menunggu beberapa saat. Tak berapa lama pria itu keluar lalu menyuruhku masuk. Kembali kurapikan pakaianku, kemudian kuketuk pintu.

“Silakan masuk!” sambung seseorang dari dalam ruangan.

“Selamat siang, Pak,.” Dengan santun aku menyapa seorang pria yang duduk di sudut ruangan yang sedang sibuk mencari sesuatu pada layar komputer. Ketika mendengar salam, ia memalingkan wajahnya lalu menatapku dengan sebuah senyuman yang ramah. Hatiku menduga bahwa orang itu pastilah pimpinan di kantor ini. Lagi-lagi dengan santun aku melangkah lalu duduk di hadapannya setelah ia mempersilakkan ku duduk.

“Maaf, ada keperluan apa, ya?” Tanyanya.

“Mohon maaf sebelumnya, Pak, saya mau lamar kerja.” Jawabku dengan santun sambil mengeluarkan map berisi surat lamaran dari dalam tas lalu kusodorkan padanya. Ia pun membuka map itu. Satu per satu ia membolak-balikkan surat lamaran dan dokumen lainnya dengan teliti. Ruangan kini kembali sepi. Aku yang tadinya sibuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya, kini hanya diam menatap wajahnya yang penuh isyarat. Dengan sabar aku menunggu meski sulit menepis rasa penasaran ini. Tak berapa lama kemudian ia menutup kembali map yang dipegangnya lalu menatapku sambil mengangguk-anggukan kepala. Melihat reaksinya, aku semakin tak sabar mendengar jawaban darinya.

“Maaf, untuk saat ini kami belum membutuhkan staf administrasi. Tapi, jika suatu saat nanti kami membutuhkannya, barulah kami menghubungi anda.” Katanya penuh wibawa. Rasa kecewa menjalar ke seluruh tubuhku setelah mendengar apa yang dikatakannya. Hayalan tentang gaji pertama, traveling, punya motor baru, dan masih banyak yang lainnya hilang seketika bak disambar petir. Namun, dalam kekecewaanku itu masih tersimpan harapan untuk tetap berusaha. “Tak apa, ini baru tempat pertama yang kutuju. Masih banyak lagi instansi lainnya yang mungkin saja membutuhkanku.” Pikirku dalam hati yang sepintas menghilangkan rasa kecewaku. Setelah merasa tak ada lagi pertanyaan dan jawaban darinya, aku pun permisi.

Aku melangkah keluar ruangan dengan disambut senyuman tipis dari para karyawan. Dengan buru-buru aku mengendarai motor menuju instansi lainnya. Kali ini aku tak perlu bersusah payah mencari sebab instansi yang kutuju letaknya tak jauh dari yang sebelumnya.

Dengan sebongkah keyakinan, aku memberanikan diri bertemu dengan pimpinan instansi itu. Senyuman ramah para karyawan pun menyambut salamku.

“Sebentar ya, de. Beliau masih ada tamu!” Kata seorang karyawan ketika aku mengatakan akan bertemu dengan pimpinan. Aku tertegun menatap semua karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. “Andai saja aku seperti mereka” hayalku. Hampir satu jam aku menunggu.

“Silakan masuk, de, beliau sudah bisa ditemui” kata karyawan itu lagi.

Jantungku kembali berdetak kencang saat menuju ruangan. Aku berharap kali ini aku dapat diterima. Sesampai di dalam ruangan aku dipersilakan duduk lalu kembali kusodorkan map berisi lamaran kepadanya setelah terjadi perbincangan singkat. Seperti biasa aku hanya diam menunggu dan membiarkan debar-debar menguasai isi dadaku. Ruangan yang begitu dingin pun tak dapat menghapus peluh yang membasahi seluruh tubuhku. Aku semakin gugup. Entah apa yang akan dikatakannya. Setelah beberapa saat, ia meletakkan map itu di hadapanku dan tersenyum sambil menggelengkan kepala berkali-kali.

“Saya kagum dengan prestasi anda. Akan tetapi, baru beberapa hari yang lalu kami merekrut seorang staf administrasi. Jadi, untuk kali ini kami belum bisa menerima anda bekerja di sini, tapi jika dibutuhkan kami pasti akan menghubungi anda.” Tuturnya.

Aku meninggalkan ruangan itu dengan segumpal rasa kecewa yang menyesakkan dada. Langkahku pun semakin lemah. Kemudian aku kembali tancap gas menuju ke instansi dan perusahaan lainnya.

Namun, apalah daya hari itu bukanlah hari baik bagiku. Setiap instansi dan perusahaan yang kutuju tak satu pun yang menerima lamaranku. Semuanya memberikan jawaban yang sama. “Belum membutuhkan, sudah ada yang direkrut, tidak membutuhkan lagi ..” dan masih banyak alasan yang lainnya. Semangatku yang awalnya membara kini mulai redup. Ditambah lagi sengatan raja siang yang menghanguskan kulit membuatku tak melanjutkan petualanganku kali ini.

Rasa haus dan lapar semakin menggodaku setelah hampir seharian mondar-mandir keliling kota. Aku niatkan untuk berhenti sejenak di rumah makan sekedar membunuh rasa haus dan lapar.

Di sebuah warung kecil yang tak banyak pengunjungnya, aku memilih duduk di samping seseorang yang sedang asyik menikmati semangkuk bakso. Sambil menunggu pesanan aku mengeluarkan beberapa map lamaran lalu kuletakan di atas meja untuk memastikan berapa instansi dan perusahaan yang belum kutuju.

“Cari kerja, ya, de?” Tanya seseorang di sampingku.

Rupanya ia tahu isi map itu. “Jaman sekarang, sulit mendapat pekerjaan.” Tuturnya lagi.

“Betul, apalagi lapangan pekerjaan juga makin sedikit.” seseorang menambahi.

Aku hanya tersenyum simpul mendengar ocehan mereka sambil berkelahi dengan sepiring gado-gado.

Di bawah terik mentari dan peluh yang kian mengucur membasahi tubuh aku kembali ke rumah dengan perasaan getir. Kurebahkan  tubuhku di atas kasur. Namun, tiba-tiba kalimat yang diucapkan orang-orang di warung tadi kembali mengusik pikiranku. “Mungkinkah aku mengalami hal yang sama seperti yang dikatakan orang-orang tadi? Ah, itu hanya guyonan mereka saja dan belum tentu benar.” pikirku.

Tahun pun berlalu. Sudah sekian lama aku menunggu panggilan kerja. Aku bingung harus berbuat apa. Tiap hari hanya luntang-lantung di rumah. Ingin berwirausaha tapi tak punya modal. Awalnya aku mengira tak sulit mendapatkan pekerjaan, tapi ternyata tak semudah menggoreskan pena di atas kertas putih. Hari-hariku pilu.

***

Pagi itu, dalam bayang-bayang keresahan menunggu hadirnya cahaya harapan menelus ke dalam relung penantian, ku sapa embun pagi yang tengah duduk di ujung dedaunan menanti sang fajar, tuk menyejukan hati yang gulana ini. Berteman segelas kopi yang menawarkan kenikmatan pada tiap seruputan, kucoba membolak-balikkan halaman surat kabar harian pagi ini sekedar mengetahui hasil pertandingan liga-liga top dunia dan berita-berita hangat tentang politik dan juga tak ketinggalan informasi tentang lowongan pekerjaan. Aku pun larut dalam sajian berita-berita yang menarik itu hingga membuatku tak menghiraukan sebuah pesan singkat yang dari tadi hinggap di sudut handphoneku. Aku kaget ketika membaca pesan singkat itu. Ternyata aku mendapat panggilan interview dari sebuah perusahaan yang waktu itu kumasukan CV ku.

Langit pagi itu diselimuti awan hitam pertanda sebentar lagi hujan. Aku semakin melaju agar cepat tiba di perusahaan itu sebelum hujan membasahi segala yang ada. Tak berapa lama kemudian aku pun tiba. Segera aku mendaftarkan diri lalu menunggu giliran diinterview. Satu per satu peserta keluar dari ruangan dengan wajah pucat. Aku pun semakin gugup. Selang beberapa menit, kini giliranku diinterview. Dengan sikap tenang aku menghampiri personalia yang sedang menungguku dengan pertanyaan-pertanyaannya. Aku duduk di hadapannya dengan jantung yang berdegub kencang, namun tetap menjaga sikap agar aku memenuhi semua kualifikasi yang mereka butuhkan.

“Saya sudah membaca CV anda dan saya tertarik ketika mengetahui anda lulusan terbaik dan juga dari universitas terbaik.” katanya memuji. Berbagai pertanyaan lain pun diajukannya. Ia pun berdecak kagum sambil menganggukan kepala berkali-kali ketika pertanyaan itu dapat kujawab dengan baik. Senyum kembali mengitari wajahku disaat kami berjabatan tangan di penghujung pertanyaan. Kegembiraanku itu pun disambut guntur yang bergemuruh disertai rinai hujan dan petir yang menyambar semenjak tadi seakan menerangi hari-hariku yang kelam.

 Tapoone, November 2018

Oleh: Stefanus S. Beribe