K-13 dan Generasi Milenial

Oleh : Didymus Lein

Guru, tinggal di Lewokluok

Pendidikam di negara kita terus-menerus dibenahi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya adalah kurikulum pendidikan nasional yang selalu disesuaikan dangan perkembangan zaman. Beberapa kali kurikulum pendidikan nasional berubah, seperti  kurikulum yang berorientasi pada tujuan yang dikenal dengan istilah Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU dan TIK) 1976. Kemudian  kurikulum pendidikan nasional yang penekanannya pada pembelajaran, sehingga ada istilah Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) 1984.  Kemudian Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 1996. Khusus kurikulum berbasis kompetensi (KBK), penekanannya pada kompetensi yang akan dicapai oleh siswa dalam menempuh pendidikannya pada jenjang dan jenis pendidikan yang ditempuh. Sedangkan di tahun 2006 pemerintah kita memberikan ruang seluas-luasnya kepada satuan pendidikan atau sekolah untuk merancang dan melaksanakan kurikulum sekolahnya masing-masing yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KTSP,  pemerintah menurunkan standar kompetensi dan kompetensi dasar lalu sekolah atau satuan pendidikan mengembangkannya sesuai kebutuhan sekolah. KTSP juga disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan tidak meninggalkan keunggulan-keunggulan lokal. Sementara yang sedang  kita laksanakan sekarang adalah kurikulum pendidikan nasional tahun 2013  atau yang disebut K-13.

K-13 adalah kurikulum pendidikan nasional yang diluncurkan pada tahun 2013 untuk menjawabi kebutuhan generasi abad sekarang dan yang akan datang. K-13  pada prinsipnya disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perubahan yang sangat pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memaksa pemerintah, dalam hal ini kementrian pendidikan nasional agar selalu berusaha menyesuaikan  kurikulum pendidikan dengan perkembangan zaman. Cita-cita ini tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional (UU RI NO. 20 tahun 2003) tentang sistem pendidikan nasional. Undang-undang tersebut berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan tujuannya adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3).

Di tahun 2012 negara kita ikut berpartisipasi dalam kegiatan mengevaluasi kompetensi peserta didik secara internasional yakni PISA (programme for international student assessment) dan hanya menempati peringkat ke 64 dari 65 negara peserta.  Sedangkan di tahun 2015 hanya menempati  peringkat 63 dari 70 negara peserta. Ini berarti mutu pendidikan negara kita masih jauh dari apa yang dicita-citakan. Kenyataan ini yang mengisyaratkan pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan nasional, agar lebih fokus lagi dalam membenahi kurikulum pendidikan nasional khususnya pada standar kompetensi lulusan yang berorientasi kompetensi abad XXI guna menyongsong generasi emas Indonesia tahun 2045. Sejalan juga dengan cita-cita pemerintah kita yang berkeinginan menjadi kelompok tujuh negara ekonomi terbesar dunia dan sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia terhadap pembangunan peradaban dunia. Sehingga melaksanakan kurikulum tahun 2013 atau lasim disebut K-13 adalah sesuatu yang bersifat wajib dan urgen.  Mengapa?

Kurikulum 2013 mempunyai banyak keunggulan, diantaranya adalah memberikan ruang kepada satuan pendidikan untuk melakukan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) guna mengetahui kelebihan dan kekurangan serta keunggulan dan kelemahan. Dari Evaluasi Diri Sekolah (EDS), satuan pendidikan dapat melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Internal  (SPMI) untuk mengetahui rapor sekolah sebagai potret perencanaan dan pelaksanaan program sekolah. Berdasarkan potret tersebut, sekolah mulai membuat rencana pengembangan sekolah pada delapan standar nasional pendidikan yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar penilaian, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar sarana prasarana (peraturan pemerintah RI nomor 13 tahun 2015). Dari delapan standar tersebut, ada empat standar yang melekat pada tugas guru sebagai pelaksana kurikulum yakni standar kompetensi lulusan (SKL), standar isi, standar proses dan standar penilaian. Ke-4 standar tersebut yang akan dilaksanakan oleh guru mulai dari merencanakan pembelajaraan sampai pada membuat evaluasi pembelajaran/penilaian.

Sebagai pelaksana kurikulum, guru wajib membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan memperhatikan perkembangan generasi abad 21  seperti critical thinking and problem solving skill, communication skill, creativity and innovation  serta collaboration. Guru juga harus mengedepankan pendidikan karakter peserta didik dan gerakan literasi dengan tidak meninggalkan budaya lokal.

Setelah membuat perencanaan pembelajaran, selanjutnya tugas guru adalah melaksanakan pembelajaran. Di dalam kegiatan pembelajaran guru wajib memfasilitasi proses pembelajaran yang kontekstual dan berbasis information and technologi (IT). Guru juga dituntut menggunakan model-model belajar, metode dan strategi belajar yang sesuai dengan perkembangan zaman. Menggunakan model, metode serta strategi yang tepat, berarti guru dapat menunjukan sumber-sumber belajar yang dapat diakses oleh peserta didik dengan memperhatikan tahapan berpikir analisis (C4), evaluasi (C5) dan mencipta (C6) (Taksonomi Bloom Anderson Karthwohl). Bukan zamannya lagi, guru hanya mengajarkan ilmu dengan cara transfer. Begitu pula dalam memfasilitasi pembelajaran, seorang guru tidak lagi memandang tahapan berpikir mengingat, memahami dan menerapkan sebagai tujuan akhir pembelajaran. Tahapan berpikir tersebut (C1, C2, C3) hanya sebagai penghantar dan hanya digunakan dalam proses pembelajaran, karena tahapan berpikir mengingat (C1), memahami(C2) dan menerapkan (C3) adalah tahapan berpikir tingkat rendah (low order thinking skill) yang disingkat LOTS. Peserta didik harus dibelajarkan pada tahapan berpikir tingkat tinggi/higher order thinking skill (HOTS), dan selalu memanfaatkan information and technologi (IT) sehingga peserta didik dapat menemukan sendiri ilmu pengetahuannya melalui mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan mengomunikasi (5M). Proses pembelajaran yang demikian dapat menghantar peserta didik  pada tahapan menciptakan sesuatu yang baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masa depan peserta didik itu sendiri maupun untuk orang lain.

Jika kegiatan pembelajaran selalu melibatkan peserta didik untuk aktif mencari sumber belajar, menemukan ilmu pengetahuan, mengolah dan pada akhirnya menciptakan sesuatu yang baru, maka di masa-masa yang akan datang negara kita dapat bersaing dengan negara-negara maju yang lain di dunia. Kurikulum 2013 adalah idealisme negara yang harus menjadi idealisme setiap pelaksana kurikulum sehingga adanya sinergisitas antara pemerintah dan guru sebagai pelaksana lapangan.

Tahapan tugas guru sebagai pelaksana kurikulum tidak berhenti pada melaksanakan kegiatan pembelajaran, tapi akan bermuara pada mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan agar dapat melihat keberhasilan maupun kegagalan yang harus disandingkan dengan tujuan yang telah direncanakan. Evaluasi yang dimaksudkan adalah menguji keberhasilan peserta didik berdasarkan tujuan pembelajaran pada tahapan berpikir analisis, evaluasi dan mencipta. Evaluasi yang dibuat guru tersebut harus kontekstual dalam artian berdasarkan pengalaman nyata  peserta didik. Secara teknik, soal-soal yang dibuat untuk mengevaluasi, sebaiknya soal-soal yang tidak biasa/lasim, artinya soal-soal yang sudah biasa dipakai dalam ulangan harian dan atau ujian semester tidak dipakai lagi.  Dengan demikian soal-soal evaluasi yang akan dipakai adalah  kontekstual dan tidak lasim yang digunakan untuk mengukur tahapan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Jadi jiwa atau ruh dari kurikulum 2013 (K-13) adalah pembelajaran kontekstual dengan menggunakan IT dan melibatkan tahapan berpikir tingkat tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkompeten dalam memanfaatkan science, technology, engineering dan mathematics serta berkarakter sesuai budaya bangsa kita.  Kurikulum 2013 (K-13)  juga harus dapat menghasilkan peserta didik  yang menjadi hebat di zamannya.

Kesuksesan/keberhasilan K-13 sangat tergantung pada pelaksana kurikulum yakni guru. Kurikulum yang baik ditangan guru yang baik hasilnya pasti sangat baik. Kurikulum yang baik ditangan guru yang jelek hasilnya pasti jelek. Kurikulum yang jelek ditangan guru yang baik hasilnya baik. Dan kurikulum yang jelek ditangan guru yang jelek sebaiknya tidak ada.